kau berangkat dengan baju tanpa lengan
dipadu dengan celana selutut
ditambah sepatu karet favorit
tak peduli seterik apa mentari
acuhkan tetes air membasahi bumi
kala terang ataupun gelap
kau terus berlari
seakan terdorong angin
hingga menembus benteng
kau yang serius
pada satu titik, satu tujuan
membunuh lawan tanpa ampunan
saatnya peluru di tangan
siap kau lepaskan
dengan satu lecutan
badan pun basah
karena derasnya peluhmu
kau tetap mengunci semua
rasa dalam manisnya legawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar